SmartNews Logo
Portal Berita Terpercaya & Cerdas
BREAKING NEWS BREAKING
Sumbar Semarakkan HUT RI ke-81 dan Pekan Maulid Nabi, OSIM PSA Sulit Air Gelar Deretan Lomba 1 bulan yang lalu • Sumbar MGMP Matematika Wilayah Tengah Kembangkan Administrasi Digital Berbasis Google Apps Script 1 bulan yang lalu • Sumbar Meriahkan Maulid Nabi 1448 H, Ratusan Pelajar se-Nagari Sulit Air Unjuk Syiar di Masjid Raya 1 bulan yang lalu • Sumsel BMKM Sumsel Terima Kunjungan Kerabat Raja Jembal Kelantan Malaysia, Perkuat Silaturahmi Budaya Melayu-Minangkabau 1 bulan yang lalu • Sumbar Intip Kemegahan Pawai Alegoris HUT RI ke-81 di Nagari Sulit Air 2 bulan yang lalu • Sumsel Pemkab Banyuasin Apresiasi Semangat Warga RW 10 Megah Asri II Rayakan HUT ke-81 RI 2 bulan yang lalu • Sumsel IKM Banyuasin III Meriahkan HUT RI Ke-81: 60 Paket Sembako Disalurkan Hari Ini 2 bulan yang lalu • Sumbar Harmoni Santri di Ranah Minang: Warna Baru Peringatan HUT RI ke-81 di Nagari Sulit Air 2 bulan yang lalu •
Nasional

Payung atau Sepeda Motor? Ketika Pendidikan Bukan Soal Gengsi, Melainkan Pembentukan Karakter

Budi Santoso Diperbarui 20:29 WIB 3 menit membaca
Payung atau Sepeda Motor? Ketika Pendidikan Bukan Soal Gengsi, Melainkan Pembentukan Karakter
Liputan dokumentasi peristiwa resmi SmartNews Sumber: SmartNews
Ukuran Teks:
Smart AI Overview

Ringkasan Cerdas AI

  • Di tengah kehidupan yang semakin modern, ukuran keberhasilan pendidikan sering kali bergeser.
  • Banyak orang tua berlomba memasukkan anak ke sekolah yang dianggap bergengsi, lengkap dengan fasilitas terbaik, bahkan rela mengeluarkan biaya besar demi mengejar prestise.
  • Padahal, hakikat pendidikan tidak selalu ditentukan oleh kemewahan fasilitas atau jauhnya jarak sekolah, melainkan oleh nilai-nilai yang ditanamkan selama proses belajar.

SmartNews–Di tengah kehidupan yang semakin modern, ukuran keberhasilan pendidikan sering kali bergeser. Banyak orang tua berlomba memasukkan anak ke sekolah yang dianggap bergengsi, lengkap dengan fasilitas terbaik, bahkan rela mengeluarkan biaya besar demi mengejar prestise. Padahal, hakikat pendidikan tidak selalu ditentukan oleh kemewahan fasilitas atau jauhnya jarak sekolah, melainkan oleh nilai-nilai yang ditanamkan selama proses belajar.

Saya pernah dihadapkan pada sebuah pilihan sederhana, tetapi penuh makna. Kepada putri saya, saya berkata, jika memilih sekolah umum yang jauh, ia akan saya belikan sepeda motor. Namun jika memilih Madrasah PSA Sulit Air yang dekat dari rumah, ia harus berjalan kaki dengan payung sebagai teman perjalanan.

Motor melambangkan kemudahan, kenyamanan, bahkan gengsi di mata sebagian remaja. Sebaliknya, payung tampak sederhana. Ia tidak membuat seseorang terlihat lebih hebat, tetapi selalu setia melindungi dari panas dan hujan. Di luar dugaan, putri saya memilih payung. Ia memilih berjalan kaki menuju madrasah.

Pilihan sederhana itu ternyata menjadi awal dari perjalanan panjang yang mengubah hidupnya.

Di madrasah, ia tidak hanya belajar ilmu pengetahuan umum. Ia juga ditempa dengan disiplin ibadah, hafalan Al-Qur’an, pembiasaan akhlak, dan kehidupan yang penuh kesederhanaan. Tidak mudah menjalaninya. Ada masa-masa ketika kelelahan datang karena harus menyeimbangkan pelajaran umum dengan pendidikan agama. Namun justru di situlah karakter mulai dibangun.

Para ustaz dan ustazah tidak hanya berperan sebagai guru. Mereka menjadi pembimbing, motivator, bahkan orang tua kedua yang selalu hadir ketika anak-anak mulai kehilangan semangat. Kalimat-kalimat sederhana yang mereka sampaikan sering kali menjadi penyemangat yang jauh lebih berharga daripada hadiah apa pun.

Waktu akhirnya membuktikan bahwa pilihan itu tidak keliru. Putri saya berhasil menjadi lulusan terbaik dengan prestasi akademik sekaligus hafalan Al-Qur’an yang membanggakan. Prestasi di Kompetisi Sains Madrasah juga berhasil diraih hingga tingkat kabupaten. Kini ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, sementara sepupunya yang menempuh jalan yang sama diterima di Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang.

Semua itu membuat saya semakin yakin bahwa pendidikan terbaik bukanlah yang paling mahal atau paling bergengsi. Pendidikan terbaik adalah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, dan siap menghadapi kehidupan.

Kisah ini bukan berarti semua anak harus bersekolah di madrasah. Setiap sekolah memiliki keunggulan masing-masing. Namun, pengalaman ini mengajarkan bahwa orang tua sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan fasilitas, melainkan juga lingkungan pendidikan, keteladanan guru, budaya sekolah, dan nilai-nilai yang akan membentuk karakter anak.

Hari ini, ketika banyak orang tua sibuk mengejar simbol keberhasilan, saya justru bersyukur karena putri saya dahulu memilih sesuatu yang tampak sederhana. Payung yang ia pilih bukan sekadar pelindung dari hujan, tetapi menjadi simbol kesabaran, keteguhan, dan pendidikan karakter yang akhirnya mengantarkannya meraih masa depan.

Pada akhirnya, anak-anak tidak hanya membutuhkan kendaraan yang membawa mereka ke sekolah. Mereka jauh lebih membutuhkan nilai-nilai kehidupan yang akan membawa mereka melewati perjalanan panjang setelah meninggalkan bangku pendidikan.

Karena kelak, yang paling menentukan bukanlah seberapa cepat mereka sampai, tetapi seberapa kuat karakter mereka saat menghadapi berbagai badai kehidupan.

 

5,960 kali dibaca
Budi Santoso
Jurnalis Senior

Budi Santoso

Divisi Redaksi – SmartNews

Jurnalis berpengalaman di bidang liputan nasional, investigasi, dan kebijakan publik dengan komitmen menyajikan berita faktual, berimbang, dan berintegritas tinggi untuk masyarakat.

Berita Terkait

Komentar Pembaca (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tulis Komentar